Menurut Kantor Berita ABNA, pada bagian pertama pidatonya, Rahbar menyinggung kesepakatan nuklir Iran dengan Kelompok 5+1 atau yang dikenal dengan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Dalam hal ini, Rahbar memaparkan betapa JCPOA telah menjadi pengalaman bagi Iran membuktikan bahwa Amerika Serikat adalah pihak yang sama sekali tidak dapat dipercaya.
Menurut beliau rakyat Iran sudah sejak lama menyadari hal tersebut, namun JCPOA telah membuktikan kepada semua masyarakat dunia bahwa AS adalah pihak yang tidak akan berkomitmen pada janjinya dalam kesepakatan yang ditandatanganinya sendiri.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyatakan, pengalaman Iran mencapai kesepakatan nuklir dengan Kelompok 5+1, termasuk Amerika Serikat, adalah contoh nyata tidak dapat dipercayanya musuh.
"Sekarang, bahkan para pejabat diplomatik dan orang-orang yang hadir dalam perundingan [nuklir] menegaskan fakta bahwa AS melanggar janji-janjinya, dan ketika berbicara lembut dan manis [dengan Iran], sibuk menghambat dan merusak hubungan ekonomi Iran dengan negara lain," demikian kata Rahbar dalam pertemuan dengan ribuan warga Iran dari beberapa provinsi di Tehran, Senin 1/8).
Pada 16 Januari 2016, Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB - Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Cina dan Rusia - ditambah Jerman mulai melaksanakan perjanjian nuklir, yang dikenal sebagai Rencana AKsi Bersama Komprehensif (JCPOA), yang telah mereka raih 14 Juli 2015.
Berdasarkan perjanjian tersebut, semua sanksi anti-Republik Islam terkait nuklir program nuklir oleh Uni Eropa, Dewan Keamanan dan AS akan dicabut. Sebagai imbalannya, Iran setuju untuk membatas kegiatan nuklirnya.
"JCPOA, sebagai sebuah pengalaman, sekali lagi membuktikan kesia-siaan perundingan dengan Amerika, tidak adanya komitmen mereka pada janji-janji dan perlunya ketidakpercayaan pada janji-janji AS," kata Ayatullah Khamenei.
Ayatullah Khamenei menambahkan, pengalaman JCPOA juga menunjukkan bahwa solusi "bagi kemajuan negara dan peningkatan standar hidup bangsa ini [terfokus] pada perhatian potensi yang ada di dalam negeri, bukan kepada musuh yang terus-menerus menciptakan hambatan bagi Iran di kawasan dan dunia."
Rahbar lebih lanjut menekankan bahwa bangsa Iran harus belajar dari pengalaman pelaksanaan komitmen AS, dan menambahkan, "Mereka [para pejabat AS] berkata mari bernegosiasi [dengan kami] pada isu-isu regional juga, tapi pengalaman JCPOA memberitahu kita bahwa mengambil langkah ini akan menjadi racun yang mematikan dan bahwa pernyataan Amerika pada setiap masalah 'tidak bisa dipercaya."
Pada bagian selanjutnya, Rahbar menyinggung keakraban hubungan antara pemerintah Saudi dan rezim Zionis. Beliau menilai fenomena ini sebagai pengkhianatan terhadpa umat Islam.
Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei juga menilai langkah Saudi itu sebagai “dosa besar” dan pengkhianatan. Amerika Serikat juga dinilai beliau terlibat dalam langkah-langkah keliru secara massif ini mengingat pemerintah Saudi adalah pengekor dan patuh pada pemerintah Amerika Serikat.
Rahbar menyebut agresi Arab Saudi ke Yaman serta bombardir rumah, rumah sakit dan sekolah, juga berlanjutnya pembunuhan anak-anak Yaman, sebagai kejahatan besar lain Arab Saudi.
Namun Ayatullah Khamenei menyebutkan bahwa kejahatan itu juga dilakukan oleh Amerika Serikat sebagai penyuplai senjata dan lampu hijau yang diberikan kepada rezim Al-Saud.
Lebih lanjut Ayatullah Khamenei menyinggung sikap Sekjen PBB, Ban Ki-moon, di hadapan brutalitas Arab Saudi terhadap anak-anak Yaman, dan mengatakna, sayang sekali, bahkan ketika PBB akan mengecam kejahatan tersebut setelah sekian lama, Arab Saudi menutup mulut mereka dengan uang, ancaman dan tekanan.
Pada 2 Juni 2016, Sekjen PBB mengkritik keras Arab Saudi dan koalisinya karena menekan lembaga internasional itu untuk mencabut nama Arab Saudi dari daftar hitam rezim pembunuh anak-anak Yaman. Kemudian Ban menyatakan bahwa pihaknya akan menghapus nama Arab Saudi dari daftar hitam tersebut untuk sementara, setelah rezim monarki Saudi mengancam akan menghentikan pendanaan program-program kemanusiaan PBB.